Pantura.info, SEMARANG—Anggaran pengadaan koleksi buku untuk perpustakaan di Jawa Tengah (Jateng) pada 2026 dipangkas sekitar Rp115,98 juta atau 23,12% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpusda) Jateng memastikan penambahan koleksi buku tetap dilakukan sesuai skala prioritas.
Kepala Arpusda Jateng, Rahmah Nur Hayati, mengatakan efisiensi anggaran di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) turut berdampak pada alokasi anggaran di Jawa Tengah. Dampaknya, penambahan koleksi buku menjadi lebih terbatas.
“Dampaknya penambahan koleksi berkurang,” kata Rahmah kepada Espos, Senin (20/7/2026).
Anggaran pengadaan buku Arpusda Jateng turun dari Rp501.580.000 pada 2025 menjadi Rp385.600.000 pada 2026 atau berkurang Rp115.980.000. Meski begitu, Rahmah menegaskan kondisi tersebut tidak menghambat upaya peningkatan literasi di Jawa Tengah.
“Tahun 2025 [anggaran] Rp501.580.000. Tahun 2026 menjadi Rp385.600.000. Namun, kami tetap komitmen dengan menjalin kerja sama semua pihak. Sehingga Jateng tetap jalan meski dengan keterbatasan anggaran,” ujarnya.
Layanan Perpustakaan Tetap Berjalan
Untuk menjaga layanan perpustakaan, Arpusda Jateng memperkuat kolaborasi dengan pemerintah desa, Dinas Pendidikan, serta satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, dan SLB. Melalui kerja sama tersebut, perpustakaan mampu mempertahankan sekitar 3.000 kunjungan masyarakat setiap bulan.
“Kami ada Perpustakaan provinsi, perpustakaan desa, dan taman baca desa untuk menggerakkan gerakan gemar membaca. Kami optimalkan koleksi yang ada dan membuat perpustakaan bukan sekadar pinjam buku, tapi juga gerakan literasi,” jelasnya.
Rahmah memastikan koleksi buku tetap memenuhi standar meski anggaran berkurang. Penambahan koleksi juga tetap dilakukan dengan mengacu pada kebutuhan dan skala prioritas.
“Koleksi tetap kami jaga sesuai standar. [Menambah] tetap bisa sesuai koleksi yang disarankan,” tegasnya.
Selain itu, layanan perpustakaan keliling tetap beroperasi untuk memperluas akses masyarakat terhadap koleksi buku, terutama bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan.
“Perpus keliling untuk menjangkau masyarakat. Sekolah yang butuh koleksi, bisa kami pinjamkan sebelum geser ke sekolah lain,” imbuhnya.
Rahmah berharap pada 2027 tidak ada lagi efisiensi anggaran karena pengelolaan perpustakaan memerlukan dukungan pendanaan yang memadai.
“Management perpus, harus didukung SDM [sumber daya manusia], koleksi, regulasi. Harapannya, anggaran yang ada selalu memadai,” harapnya.
Sebagai informasi, anggaran Perpusnas pada 2026 sebesar Rp377,9 miliar, turun hampir setengah dibandingkan anggaran 2025 yang mencapai Rp721 miliar

Leave a Reply