Pantura.info, SOLO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solo mengklaim belum ada wilayah di Kota Bengawan yang mengalami kekeringan atau krisis air memasuki musim kemarau yang diprediksi bakal panjang dan kering. Kendati demikian, BPBD ogah terlena dan tetap mengimbau masyarakat mengantisipasi potensi kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Solo, Ari Dwi Daryatmo, menyebut hingga saat ini belum ada laporan perihal lokasi di Solo yang mengalami krisis air atau kekeringan. “Sampai sekarang belum ada yang laporan [terkait krisis air atau kekeringan],” kata Ari saat dihubungi Espos, Rabu (17/6/2026).
Namun, BPBD mengimbau masyarakat untuk tidak terlena dengan kondisi aman tersebut, mengingat musim kemarau yang terjadi saat ini merupakan bagian dari fenomena El Nino Godzila. Karena itu, ia pun mengajak masyarakat untuk tetap waspada dan menghemat penggunaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, ia juga mendorong masyarakat agar senantiasa memeriksa instalasi air bersih di rumah masing-masing untuk memastikan tidak adanya kebocoran yang bisa menyebabkan air bersih terbuang sia-sia. “Kita semua tetap perlu mengantisipasi, agar musim kemarau ini bisa terlewati dengan aman dan lancar, tanpa ada yang kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.
Jikalau ke depannya ditemukan ada lokasi yang mengalami krisis air, Ari mengajak masyarakat bekerja sama dengan cara melaporkannya ke pihak yang berwenang dalam hal ini bisa melalui kelurahan terkait atau langsung ke BPBD Solo. Langkah ini perlu, kata Ari agar dampak bisa diminimalkan.
Tangki Bantuan Air Bersih Disiagakan
“Jika menemukan kendala serius terkait air bersih di lingkungan masing-masing di Solo, mari segera melaporkannya ke kelurahan atau langsung ke BPBD Solo,” kata dia.
BPBD Solo, kata dia, telah menyiagakan armada tangki air untuk siap diterjunkan sewaktu-waktu. Program droping air bersih ini nantinya akan dikolaborasikan dengan PDAM serta Palang Merah Indonesia (PMI) Solo guna menjangkau warga yang terdampak krisis air.
Sebelumnya, Kalaksa BPBD Solo, Ari Dwi Daryatmo, menyebut telah memetakan sejumlah kawasan di wilayah Solo yang rawan krisis air bersih atau kekeringan. Wilayah Solo bagian utara menjadi fokus utama pemantauan. Kawasan seperti Mojosongo, Kadipiro, dan Joglo dinilai memiliki kerawanan lebih tinggi karena kondisi tanah dan elevasinya.
“Di wilayah tersebut, debit sumur warga sering kali cepat berkurang jika kemarau berlangsung lama. Selain itu, kawasan padat penduduk yang masih bergantung pada sumur dangkal juga masuk dalam radar pantauan kami,” jelasnya.
Selain krisis air bersih, BPBD Solo juga meminta masyarakat agar waspada atas potensi ancaman kebakaran di area perkotaan. Ia mengimbau warga untuk tidak memicu percikan api di lahan terbuka. “Kemarau bukan hanya soal kekeringan air, tapi juga ancaman kebakaran. Kami mohon warga jangan membakar sampah sembarangan, terutama di lahan kosong atau area sempadan sungai,” tutupnya.

Leave a Reply