Pantura.info, SOLO — Riuh tepuk tangan menggema di seluruh Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, begitu anthem Dai Dai dinyanyikan diva pop Latin asal Kolombia, Shakira, bersama Burna Boy pada pertunjukan paruh waktu laga final Piala Dunia 2026, Senin (20/7/2026) pukul 02.00 WIB.
Tarian enerjik pemilik lagu Waka Waka ini diapresiasi puluhan ribuan penonton di Stadion MetLife. Selesai euforia kemenangan Spanyol, giliran Shakira dan single terbarunya, Dai Dai, menjadi primadona. Nomor lagu tersebut seolah mengiringi kemenangan skuad La Furia Roja yang dipimpin Rodrigo Hernandez Cascante ini setelah mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 melalui gol tunggal Ferran Torres.
Bukan Shakira jika tidak berhasil membawa pesan besar di balik pertunjukan berkelasnya. Mengenakan kostum rumbai bernuansa merah muda dan kuning, Shakira menghidupkan panggung bersama puluhan penari latar dari berbagai negara.
Pada barisan depan, tarian atraktif anak-anak jalanan berkulit hitam asal Kampala, Uganda, yang tergabung dalam Triplets Ghetto Kids (TGK) turut menjadi perhatian. Bagian dari Inspire Ghetto Kids Foundation ini terlihat menari dengan lepas.
“Shakira, she is very nice, she is kind. We are so super, super excited,” kata salah satu anak dalam video yang diunggah Ghetto Kids Foundation.
Riuh “tepuk tangan” untuk TGK terus berlanjut di media sosial. Sejumlah warganet dari berbagai negara turut mengapresiasi semangat yang dibawa Shakira dan anak-anak tersebut. Kompetisi yang disorot miliaran pasang mata itu memberi ruang bagi beragam perbedaan dan ekspresi, termasuk bagi anak-anak jalanan yang selama ini nyaris tak pernah mendapat panggung di level global.
Pemilihan TGK bukan sekadar pemanis pertunjukan. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa panggung sepak bola terbesar di dunia dapat menghadirkan kelompok-kelompok yang selama ini berada di pinggiran sebagai bagian dari narasi besar sepak bola.
Rasisme
Kampanye atas ruang keberagaman melalui panggung final tersebut sedikit melonggarkan ketegangan atas isu rasisme yang sebelumnya dilaporkan meningkat selama Piala Dunia.
Dikutip dari BBC News, rasisme meningkat tajam sepanjang Piala Dunia 2026. Senator Paraguay, Celeste Amarilla, misalnya, mengunggah serangkaian komentar bernada rasis terhadap kapten Prancis, Kylian Mbappe.
Sebelumnya, pesepak bola Lamine Yamal juga mengecam keras nyanyian berlirik rasis yang terdengar saat laga tim nasional Spanyol melawan Mesir di Barcelona yang berakhir tanpa gol pada 31 Maret lalu.
YouTuber dan streamer ternama IShowSpeed juga diduga menjadi korban rasisme oleh oknum suporter Argentina saat menonton pertandingan Piala Dunia di Amerika Serikat.
Speed yang mengenakan jersey Tanjung Verde dikonfrontasi dan diteriaki kata-kata ejekan dalam bahasa Spanyol yang artinya “pergilah menangis ke kebun binatang”. Rasisme itu dilakukan oleh seorang oknum suporter perempuan ber-jersey Argentina.
Layanan Perlindungan Media Sosial FIFA mengidentifikasi lebih dari 89.000 unggahan bernada pelecehan selama fase grup. Jumlahnya meningkat 13 kali lipat dibandingkan turnamen sebelumnya di Qatar pada 2022. Padahal, data tersebut belum termasuk pada pertandingan final.
Angka itu menunjukkan bahwa rasisme dalam sepak bola tidak lagi berhenti pada ejekan di stadion. Media sosial justru memperluas ruang diskriminasi sehingga pemain tetap menjadi sasaran kebencian bahkan setelah pertandingan usai. Persoalannya bukan lagi sekadar ulah oknum, melainkan budaya yang terus direproduksi dan belum sepenuhnya berhasil diputus.
Kali ini, tidak berlebihan jika saya melihat kemenangan Spanyol dalam Piala Dunia 2026 juga berhasil membawa polemik akar rumput ke tengah masyarakat yang selama ini cenderung abai terhadap persoalan kemanusiaan. Ada rasisme, keberagaman, hingga human rights dalam kasus kejahatan kemanusiaan di Palestina.
Dikutip dari situs resminya, menjelang dan selama Piala Dunia 2026, FIFA memperkuat kebijakan antirasisme melalui penerapan FIFA Global Stand Against Racism. Disusul wacana sanksi yang lebih berat terhadap tindakan diskriminatif hingga prosedur penghentian pertandingan jika terjadi pelecehan rasial dari penonton.
Langkah tersebut patut diapresiasi. Namun, slogan tersebut tidak akan pernah berdampak jika tidak ada sanksi tegas pada pelanggaran. Apalagi kalau hanya dijadikan sebagai slogan saat kompetisi besar seperti Piala Dunia.
Situasi ini persis seperti yang ditulis sosiolog asal Belgia, Marco Martiniello, dalam bukunya, Football, Migration and Racism: Global Perspectives (2026). Ia menyebut bahwa sepak bola seharusnya bukan hanya olahraga. Sepak bola menjadi ruang sosial dan politik yang mencerminkan dinamika migrasi, keberagaman, identitas, dan rasisme di berbagai belahan dunia.
Namun, pada saat yang sama, sepak bola memiliki potensi besar sebagai medium perubahan sosial melalui kampanye antirasisme, pendidikan, dan gerakan komunitas. Perubahan itu tidak hanya menjadi tanggung jawab FIFA atau para pemain, tetapi juga klub, suporter, media, hingga masyarakat yang bersama-sama membentuk budaya sepak bola.
Konon, rivalitas dan fanatisme suporter kerap disebut sebagai salah satu akar lahirnya rasisme dalam sepak bola. Namun, fanatisme itu pula yang bisa dimanfaatkan sebagai jembatan untuk menyampaikan visi-visi kemanusiaan lewat “panggung” sepak bola.
Pada Piala Dunia kali ini, bisa dilihat dari pemilihan pertunjukan pada anthem Dai Dai yang dibawakan Shakira. Ia hadir bersama puluhan penari latar dari berbagai belahan dunia dengan beragam ras, suku, dan usia. Gemerlap panggung Shakira bahkan turut dipersembahkan bagi anak-anak jalanan yang sebelumnya tidak memiliki ruang aman untuk tampil di panggung dunia.
Pemilihan lagu yang digagas langsung oleh Shakira ini juga bukan tanpa makna mendalam. Ia mengusung pesan tentang keberanian, persatuan, dan kekuatan untuk bangkit setelah menghadapi kegagalan.
Salah satu simbol persatuan ada dalam refrain “Dai, dai, ikou, dale, allez, let’s go.” Refrain tersebut memadukan ungkapan “ayo” atau “maju” dalam lima bahasa, yakni Italia, Jepang, Spanyol, Prancis, dan Inggris.
Shakira terlihat berupaya mengawinkan keduanya, sepak bola sebagai olahraga sekaligus kampanye kemanusiaan. Di tengah riuh sorak kemenangan dan gemerlap panggung final, ia mengingatkan bahwa trofi memang hanya dimiliki satu negara. Akan tetapi, nilai-nilai keberagaman, kesetaraan, dan kemanusiaan adalah kemenangan yang seharusnya dirayakan bersama.
Sebagai pencinta sepak bola yang dituding “karbitan”, saya belum terlalu fasih soal hal teknis dan taktik lapangan. Namun, saya sangat meyakini bahwa panggung besar piala dunia dengan biaya dan energi besar ini adalah ruang penting yang seharusnya turut menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan.
Jadi, tidak berlebihan rasanya kalau Shakira yang pernah meraih empat Grammy Awards dan 15 Latin Grammy Awards ini mendapatkan julukan sebagai Queen of World Cup. Cheers, Queen!

Leave a Reply