China Desak Filipina Hentikan Provokasi, Australia Kirim Drone Militer

China Desak Filipina Hentikan Provokasi, Australia Kirim Drone Militer
Peta konflik klaim wilayah antar-negara di Laut China Selatan. (ANTARA/inquirer.net)

Pantura.info, BEIJING — Ketegangan di Laut China Selatan kembali memanas. China mendesak Filipina menghentikan apa yang disebut sebagai tindakan provokatif setelah insiden antara aparat kedua negara, sementara Australia mengumumkan bantuan peralatan keamanan maritim senilai lebih dari Rp300 miliar kepada Manila.

Mengutip Antara dari Sputnik/RIA Novosti, Selasa (21/7/2026), insiden bermula saat kapal kecil Penjaga Pantai China sedang berpatroli di perairan dekat Karang Renai. Beijing menuduh kapal Filipina memasuki wilayah tersebut secara ilegal.

Menurut China, kapal Filipina mengabaikan sejumlah peringatan sebelum meluncurkan dua perahu karet yang kemudian mendekati kapal patroli China.

“Kapal Filipina mengabaikan peringatan berulang kali dan meluncurkan dua perahu karet yang dengan cepat dan berbahaya mendekati dan menabrak kapal patroli China. Kami menuntut agar Filipina segera menghentikan provokasinya,” kata Penjaga Pantai China.

China juga menuding personel Filipina sengaja menyerang petugas penjaga pantainya menggunakan dayung dan tongkat panjang.

Sebaliknya, Angkatan Bersenjata Filipina sebelumnya menuduh Penjaga Pantai China melukai seorang anggota Angkatan Laut Filipina dalam insiden di kawasan perairan strategis tersebut.

Beijing membantah tuduhan itu dan menilai Manila telah memutarbalikkan fakta.

Sengketa di Laut China Selatan telah berlangsung selama beberapa dekade dan melibatkan sejumlah negara, termasuk Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, serta Filipina. Wilayah yang dipersengketakan meliputi Kepulauan Paracel, Kepulauan Spratly, dan Scarborough Shoal yang diyakini memiliki cadangan hidrokarbon cukup besar.

Pada 2016, Pengadilan Arbitrase Permanen (PCA) di Den Haag memenangkan gugatan Filipina dan menyatakan China tidak memiliki dasar hukum atas sebagian besar klaimnya di Laut China Selatan. Namun, Beijing menolak mengakui putusan tersebut.

Australia Perkuat Kemampuan Maritim Filipina

Di tengah meningkatnya ketegangan itu, Australia mengumumkan bantuan baru untuk memperkuat kemampuan Penjaga Pantai Filipina.

Paket bantuan senilai 413 juta peso atau sekitar Rp119,59 miliar tersebut meliputi drone bawah air, sistem anti-drone, serta pesawat nirawak (UAV) berat berjangkauan jauh. Australia juga akan memberikan pelatihan kepada operator drone Penjaga Pantai Filipina.

“Ini mencerminkan prioritas tinggi yang diberikan Australia pada kemitraan maritim sipil kami dengan Anda, dan prioritas tinggi yang kami berikan pada kerja sama kami untuk berkontribusi dalam membangun ketahanan maritim Anda,” kata Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong dalam pernyataan Kedutaan Besar Australia di Manila.

Duta Besar Australia untuk Filipina Marc Innes-Brown mengatakan drone yang sebelumnya telah diserahkan Canberra kini digunakan Penjaga Pantai Filipina dalam operasi keamanan maritim, misi pencarian dan penyelamatan, serta perlindungan lingkungan.

Selain bantuan peralatan, Australia juga meluncurkan program kerja sama maritim sipil selama empat tahun senilai 678 juta peso atau sekitar Rp196,4 miliar.

Program tersebut mencakup penyediaan peralatan tambahan, pelatihan tenaga ahli, perlindungan lingkungan laut, reformasi tata kelola maritim, hingga studi hukum maritim internasional.
 

Leave a Reply