Gelar FKP, RSJD Soedjarwadi Klaten Sosialisasikan CAPD hingga Kanal Permata

Gelar FKP, RSJD Soedjarwadi Klaten Sosialisasikan CAPD hingga Kanal Permata
Forum konsultasi publik dan sosialisasi terkait CAPD digelar di RSJD Dr RM Soedjarwadi Klaten, Selasa (20/10/2026). (Espos/Taufiq Sidik Prakoso)

Pantura.info, KLATEN – Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Dr RM Soedjarwadi Klaten menggelar forum konsultasi publik (FKP) terkait Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Metode cuci darah mandiri tanpa mesin itu menjadi alternatif terapi cuci darah bagi pasien gagal ginjal kronik.

FKP digelar di Ondrowino Hall RSJD Dr RM Soedjarwadi yang beralamat di Jl Ki Pandanaran, Desa Danguran, Kecamatan Klaten Selatan, Selasa (20/10/2026). FKP dihadiri pimpinan RSJD, Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Hartanto, perwakilan Dinas Kesehatan dan tamu lainnya.

Kegiatan itu menghadirkan dua narasumber yakni dokter spesialis penyakit dalam, Andang Setiadi, serta perawat ahli madya RSUD Dr Moewardi Surakarta, Aris Setiyawan.

Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Medis RSJD Dr RM Soedjarwadi, Alhaq Nafsi Setyawan, menjelaskan CAPD menjadi salah satu pelayanan yang dikembangkan rumah sakit di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tersebut.

“CAPD menjadi layanan bagi para penderita gagal ginjal sehingga mereka bisa melakukan cuci darah secara mandiri di rumah, tidak dengan mesin. Tetapi memang untuk bisa melakukan itu eh itu memang ada cara-caranya, ada metodenya. Ini kami sosialisasikan,” jelas Nafsi saat ditemui di sela FKP.

Sosialisasi itu terutama disampaikan ke pasien-pasien yang masuk dalam daftar antrean cuci darah hemodialisa (HD) di RSJD Dr RM Soedjarwadi. Saat ini, daftar antrean untuk cuci darah dengan mesin hemodialisis sekitar 150 pasien.

“Dan mereka itu belum mendapatkan jadwal secara rutin,” jelas Nafsi.

Sementara itu, kapasitas mesin hemodialisasi yang saat ini dimiliki RSJD terbatas. Per hari, RSJD melayani delapan pasien. “Dan yang rutin itu ada 24 pasien. Satu pasien itu sepekan bisa dua kali cuci darah,” jelas Nafsi.

Nafsi menjelaskan pelayanan CAPD menjadi salah satu solusi panjangnya antrean pasien yang masuk dalam daftar tunggu dan belum mendapatkan jadwal cuci darah. Dengan CAPD, mereka bisa melakukan secara mandiri melalui pelatihan dan dukungan yang tepat.

Dia menjelaskan ada satu calon pasien dari RSJD yang siap untuk menjalani metode CAPD. “Jadi, proses ini butuh edukasi, butuh pelatihan, butuh nanti dipasang peralatan. Nanti setelah pemasangan kateter di perut, dia akan melakukan CAPD tadi dengan cairan hemodialisa tadi di rumah secara mandiri,” jelas Nafsi.

Ada sejumlah keuntungan yang diperoleh pasien gagal ginjal maupun keluarga melakukan metode cuci darah dengan CAPD. Pasien tidak perlu mengantre di rumah sakit untuk melakukan cuci darah menyusul proses tersebut bisa dilakukan di rumah sesuai metode yang benar.

Di sisi lain, pihak keluarga tetap bisa melakukan aktivitas seperti bekerja dan lainnya dengan tetap membantu pasien melakukan proses memasukkan dan mengeluarkan cairan melalui metode yang benar. “Kemudian kontrolnya ke rumah sakit itu sekali dalam sebulan,” ungkap dia.

Nafsi menjelaskan sosialisasi terus digencarkan terkait metode CAPD terutama kepada pasien-pasien yang terindikasi gagal ginjal kronik. Selain itu, promosi melalui media sosial juga disampaikan terkait RSJD yang memiliki layanan CAPD.

“Kami akan terus mempromosikan tentang layanan ini karena layanan ini akan sangat bermanfaat untuk masyarakat,” ungkap Nafsi.

Selain sosialisasi tentang metode CAPD, pada FKP tersebut juga dilakukan launching, sosialisasi sekaligus bimbingan teknis terkait Permata Soedjarwadi, sistem pengaduan responsif, amanah, terintegrasi di RSJD Dr RM Soedjarwadi. Permata Soedjarwadi menjadi sistem tata kelola pengaduan di rumah sakit tersebut.

Pemaparan disampaikan Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Hukum, dan Humas RSJD Dr RM Soedjarwadi, Budi Rohtugiyono.

“Masukan, saran dan aduan masyarakat seperti permata yang sangat berharga. Untuk itulah kami membuka ruang seluas-luasnya agar saran, masukan dan aduan tentang pelayanan rumah sakit ini bisa kami terima dan tindaklanjuti dengan baik sehingga ke depan kinerja pelayanan rumah sakit bisa semakin meningkat dan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat,” ungkap Budi.

Leave a Reply