Generasi Muda Pemuda Pancasila Diminta Jaga Integritas dan Nilai Perjuangan

Generasi Muda Pemuda Pancasila Diminta Jaga Integritas dan Nilai Perjuangan
Pelopor Pemuda Pancasila Karanganyar gelar reuni pada Rabu (1/4/2026). (Daerah/Indah Septiyaning Wardani)

Pantura.info, KARANGANYAR — Generasi muda Pemuda Pancasila diminta tidak terjebak pada kepentingan pribadi maupun orientasi materi dalam menjalankan organisasi. Pesan tersebut mengemuka dalam reuni pelopor Pemuda Pancasila Karanganyar era berdirinya tahun 1994 bertajuk “Doreng Lawas” yang digelar di Cafe Dadap Serep, Lalung, Karanganyar, Rabu (1/4/2026).

Kegiatan ini menjadi ajang temu kangen sekaligus momentum menghidupkan kembali semangat juang generasi pendiri. Dalam suasana penuh keakraban, para pelopor justru menyampaikan kegelisahan terhadap tantangan zaman yang dinilai semakin menggerus nilai-nilai dasar organisasi.

Mantan Ketua Pemuda Pancasila Karanganyar era 1994, Raden Mas Sasetyo Hartawan atau Theo, menegaskan Pemuda Pancasila dibangun bukan atas dasar kepentingan, melainkan semangat perjuangan dan kebersamaan.

“Sekarang ini banyak yang mengukur segalanya dengan uang dan kepentingan. Jangan sampai itu masuk ke dalam organisasi dan merusak persaudaraan,” ujarnya.

Menurut Theo, sejak awal berdiri, Pemuda Pancasila memiliki peran sebagai benteng penjaga nilai-nilai Pancasila. Karena itu, setiap kader dituntut mencerminkan sikap berbudi luhur, berintegritas, serta memiliki kepedulian sosial tinggi. Ia menekankan, menjadi bagian dari organisasi tidak cukup hanya mengenakan atribut, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

“Harus bisa menjadi teladan di masyarakat, ringan membantu sesama, menjaga kerukunan, dan konsisten menjalankan amanah,” katanya.

Theo juga menyinggung nilai yang dahulu ditanamkan kepada para kader melalui filosofi “satrio berbudi bawa laksana”, yang mengandung makna bahwa seorang kader harus memiliki ilmu, wibawa, serta kesiapan mengabdi kepada masyarakat. Tidak hanya kuat secara fisik dan organisasi, tetapi juga secara moral dan hati.

Ia mengenang, pada masa awal berdiri tahun 1994, Pemuda Pancasila Karanganyar menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tekanan eksternal hingga keterbatasan dana. Seluruh kebutuhan organisasi saat itu dipenuhi secara mandiri oleh para kader.

“Tidak ada dana operasional. Seragam beli sendiri, kegiatan berjalan dengan swadaya. Justru dari situ rasa memiliki dan solidaritas tumbuh kuat,” katanya.

Theo menilai kondisi tersebut sangat berbeda dengan situasi saat ini. Jika dulu tantangan terbesar adalah membangun organisasi, kini tantangan utamanya adalah menjaga nilai dan kepercayaan publik. Ia mengingatkan, jika kader muda tidak mampu menjaga integritas, organisasi berpotensi kehilangan arah.

“Kalau semua hanya mengejar kepentingan, organisasi ini bisa kehilangan makna, tinggal nama saja,” tegasnya.

Theo juga menekankan pentingnya menjaga ikatan emosional dan persaudaraan sebagai fondasi utama organisasi. Menurutnya, kekuatan Pemuda Pancasila sejak dulu terletak pada kebersamaan yang tulus.

Melalui momentum reuni tersebut, para pelopor berharap generasi muda tidak hanya melanjutkan estafet kepemimpinan, tetapi juga mampu merawat nilai perjuangan yang telah dibangun dengan penuh pengorbanan.

Mereka juga mendorong kader muda untuk lebih aktif berkontribusi di tengah masyarakat, sehingga kehadiran Pemuda Pancasila benar-benar dirasakan manfaatnya.

“Jadilah kader yang hadir membawa solusi, bukan masalah. Yang dibutuhkan masyarakat adalah keteladanan, bukan sekadar simbol,” kata Theo.

Reuni “Doreng Lawas” menjadi pengingat bahwa keberlanjutan organisasi tidak hanya ditentukan oleh struktur dan jumlah anggota, tetapi juga oleh kualitas moral dan komitmen kadernya.

“Jika nilai dijaga, organisasi akan tetap besar dan dihormati. Namun jika nilai ditinggalkan, semuanya bisa hilang,” pungkasnya.

Leave a Reply