Mimpi Ibu

Mimpi Ibu
Ilustrasi cerpen Mimpi Ibu. (Istimewa)

Aku tidak pernah mengenal figur Ayah, tetapi kehidupan tetap berjalan baik-baik saja. Ibu menjelma menjadi arsitek yang membuat kehidupanku kukuh dan harmoni: salat Subuh berjamaah, mengaji di kala petang sembari menanti Ibu pulang kerja, dan memungkasi hari dengan santap malam. 

Dengan beralaskan karpet Upin Ipin yang Ibu beli menjelang Idulfitri dua tahun silam, kami duduk bersila sembari makan malam. Di karpet yang gambarnya telah separuh mengelupas itu, segala aktivitas keseharian tidak secuil pun luput kuceritakan. 

Ibu tampak antusias tatkala mendengar cerita tentang aktivitasku, terutama saat di sekolah. Ibu bahkan pernah menghentikan gosokan setrikanya dan membiarkan semprotan pewanginya menguap demi mendengar cerita tentang kiprahku dalam ‘Debat Calon Ketua OSIS’. 

Pada akhirnya, memang aku kalah dalam pemilu OSIS putaran kedua. Akan tetapi, dengan meluapkan semua kisah kepada Ibu dan mendengar respons arifnya, aku merasa tenang dan ‘menang’. Ibu memang lebih banyak mendengar, menyimak, dan menimpali ceritaku, daripada menceritakan kesehariannya di tempat kerja. 

Seperti Gatutkaca yang berotot kawat dan bertulang besi, Ibu sangat andal dalam semua hal. Meski tempelan koyok acap menghias tengkuk leher, Ibu selalu giat bekerja berpantang teler. Meski badannya sepulang kerja selalu asam karena mandi peluh, Ibu sangat jarang mengeluh.

Dalam obrolan di sekolah, kawan-kawan acap menceritakan peran heroik Ayahnya, mulai dari memadamkan kebocoran gas kompor, membetulkan genting rumah, menangkap ular di selokan, sampai bergaduh dengan jiran-jiran yang bawel. Aku dan Ibu juga kerap mengalami kendala dan pertikaian macam itu.

Bedanya, Ibu menjadi lakon tunggal yang kuasa menuntaskan semua-muanya. Aku sangat mengidolakan Ibu hingga pernah bercita-cita menjadi pembasuh piring yang tekun dan jujur seperti ia. Namun, Ibu menghendaki aku menjadi guru atau dokter. 

Kata Ibu, “Jadilah guru yang menyalakan akal, atau dokter yang menyembuhkan luka. Dengan begitu, hidupmu akan membawa sinar bagi dunia dan peradaban.”

“Guru, dokter, dan presiden sekali pun, tidak akan makan malam dengan menggunakan piring kotor, kan, Bu? Artinya pembasuh piring yang jujur juga berperan dalam membantu kemajuan bangsa, dong!” timpalku, tidak mau kalah. 

Saya paham betul, Ibu mencintai kejujuran sehingga Ibu tidak akan lagi menyanggah perkataanku. Benar saja, Ibu hanya menggeleng kepala sembari mengulum senyum. 

Namun, tetap saja, meski hanya menggeleng dan tersenyum, Ibu selalu menentang apabila aku berkeinginan menjadi pekerja migran pembasuh piring sepertinya. “Bukankah menjadi pahlawan devisa itu cita-cita mulia?” batinku.

Ibu sejatinya sangat toleran. Sangat mudah baginya menerima perbedaan pandangan, baik soal politik, budaya, bahkan keimanan. Namun, perihal cita-cita sang buah hati, Ibu enggan berkompromi. 

Ibu sama sekali tidak merestuiku menjadi sepertinya, padahal aku sangat mengidolakannya. Ibu pernah dengan bangga menukil sajak Kahlil Gibran dan mengidentikkan bait itu dengan dirinya, “Anakmu bukan milikmu, mereka adalah putra-putri Sang Hidup yang rindu akan dirinya sendiri.” 

Namun, dalam konteks lainnya, yakni cita-citaku, Ibu bersikap otoriter seperti tokoh ibu Teto dalam novel Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya. Seorang ibu yang tidak sudi berkompromi dan menuntut kepatuhan mutlak! Standar ganda. Menjengkelkan. 

Aku sepertinya takut tidak mampu memenuhi harapan Ibu. Pasalnya, kata wali kelasku, “Untuk kuliah di fakultas kedokteran, biayanya ratusan juta. Kalau hendak menjadi guru, mengajarlah dengan tulus dan tidak mengharap kekayaan.” 

Betapa pun Ibu gemar membaca buku, tampaknya Ibu tidak mengetahui bahwa untuk menjadi dokter memerlukan ‘modal besar’ dan guru tidak boleh mengharap kekayaan. 

***

Melalui penelusuran di laman internet, aku juga mengetahui bahwa besaran gaji guru di Tanah Air tidak lebih besar ketimbang gaji pembasuh pinggan di negeri jiran. 

Aku bahkan sampai menelusur beberapa laman untuk memastikan fakta ini dan hasil sama yang kudapatkan. Cita-citaku untuk bisa menjadi pembasuh piring seperti ibu bukanlah bualan, melainkan panggilan jiwa yang sangat realistis. 

Aku tidak mau menjadi presiden yang terus menerus dicibir oleh rakyat, entah soal apa. Aku juga tidak mau menjadi menteri yang selama lima tahun mengenakan setelan jas dan dasi, tetapi sehabis masa jabatan malah meringkuk di jeruji besi, entah karena apa. Menjadi orang besar lagi tenar, tampaknya sangat melelahkan. Aku ingin seperti Ibu yang menjalani hari-hari dengan sederhana. 

Saban hari, aku akan bekerja membersihkan pinggan dan cawan, lalu membersihkan kegundahan keluarga sesampainya di rumah. Ini pekerjaan yang sangat mulia. Aku kini telah mengenyam bangku kelas IX. Satu semester lagi, aku akan lulus SMP dan dua bulan setelahnya usiaku menapak tujuh belas. Cita-citaku menjadi pembasuh pinggan akan mewujud.

Aku ingin segera bekerja, bisa menabung, dan memiliki banyak uang. Aku akan membantu Ibu melunasi utang-utangnya kepada tauke dan menyewa rumah yang lebih besar. Selama ini, Ibu menyewa bilik berukuran sembilan meter persegi untuk kami tinggali.

Setiap obrolan kami pasti dapat didengar dengan jelas oleh penyewa bilik sebelah, sebagaimana kami dapat mendengar obrolan penyewa lainnya. Aku ingin mengobrol dengan Ibu tanpa membuat orang lain terganggu. Aku ingin mendengar tawa lepas Ibu. 

Aku ingin memiliki tandas sendiri sehingga tidak perlu lama-lama menahan berak karena mengantre di belakang penyewa bilik lain. Semua mimpi itu dapat aku wujudkan dengan bekerja selama 18 bulan sebagai pembasuh piring. Aku telah menghitung semua dengan rinci. Aku akan mengejutkan Ibu dengan rencana luhurku.

***

Suatu hari bermula seperti pagi-pagi yang lain. Selepas Subuh, Ibu berangkat kerja dengan langkah tergesa, menenteng tas kecil berisi bekal nasi goreng—sisa nasi semalam yang belum habis—dan telur mata sapi. 

Sembari menjawab salam, kukecup dingin punggung tangan Ibu yang agak berkeriput, tetapi lembut, mungkin karena setiap hari Ibu menggosok piring kotor dengan sabun. 

Di sekolah, hari-hari berjalan seperti biasa. Pelajaran Matematika terasa begitu cepat, sedangkan Bahasa Indonesia membuat detak jam melambat. Aku gemar menulis dan mengarang, tetapi ‘alergi’ dengan pelajaran Bahasa Indonesia. 

Bagaimana tidak? Aku harus mempelajari kaidah-kaidah penulisan secara kaku yang justru membuatku takut dalam menarikan pena dan menyusun kata. Selain itu, aku harus mempelajari penulisan surat pribadi, padahal di zaman kiwari, aku dapat bertatap layar dengan paras teman, menanyakan kabarnya, mengetahui aktivitasnya, dan langsung mendapat respons, hanya dengan memencet dua belas digit nomor pada gawai. 

Bukannya tidak bisa, aku hanya resah dengan konten pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Nilaiku dalam mata pelajaran ini pun selalu melampaui batas tuntas.

Sepulang dari sekolah, aku bergegas mandi dan menuju surau untuk belajar mengaji. Aku selalu bersemangat untuk menuntaskan belajar mengaji karena seusai itu, Ibu akan menyambutku dengan menu santap malam dan obrolan hangat. 

Aku acap tidak sabar untuk menceritakan segala kesenangan maupun kerunyaman hari-hariku kepada Ibu. 

Namun, petang kali ini terasa lain. Ibu belum pulang meski azan Magrib telah menjelang. Gawainya pun tidak bisa dihubungi. Ibu tidak pernah alpa untuk memberitahuku apabila harus pulang larut. Aku mulai gelisah dan kalut. Perutku yang kosong, sontak langsung terasa penuh.

***

“Ibumu ditangkap petugas Imigresen, Nduk. Kamu sing tenang, yo. Nanti kalau keadaan sudah aman, Mak Cik akan jemput kamu..” 

Kabar yang kuterima, entah dari siapa, melalui gawai di tengah malam itu menjawab semua tanyaku: tentang alasan Ibu yang tidak akan pernah pulang; tentang alasan Ibu yang tidak menginginkanku menjadi sepertinya; tentang sikap Ibu yang memberlakukan standar ganda; tentang Ibu yang selalu suka mendengar cerita aktivitasku di sekolah.

Ibu meninggalkanku, tetapi aku tetap mengidolakannya. Semua Ibu mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan anaknya. 

Sementara Ibuku mempertaruhkan nyawa di sepanjang hidupku dan di setiap embus napasku. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak berjuang dalam mewujudkan mimpi Ibu: membawa sinar bagi dunia dan peradaban. 

***

Ardian Nur Rizki, lahir di Solo, guru di Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) Johor Bahru, Malaysia, yang juga aktif menulis buku.

Pengumuman Penerimaan Cerpen

Redaksi menerima kiriman cerpen dari para penulis dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Naskah dikirim dalam bentuk file attachment (lampiran), bukan ditulis langsung di badan surel.

2. Kirim ke alamat surel redaksi@daerah.co.id.

3. Panjang naskah 1.200 hingga 1.700 kata.

4. Kirim satu naskah saja dalam satu kali pengiriman. Kami tidak menerima kiriman beberapa cerpen dalam satu kali kiriman lewat surel.

5. Pastikan naskah belum pernah dimuat di media lain.

6. Sertakan data-data sebagai berikut:

-Nama lengkap

-Alamat surel aktif

-Alamat media sosial

-Nomor rekening (beserta nama pemilik rekening)

Leave a Reply