Petani Sragen Jadi Penyumbang Stok Pangan Terbesar di Soloraya

Petani Sragen Jadi Penyumbang Stok Pangan Terbesar di Soloraya
Dua orang pekerja mengendong sak beras di Gudang Bulog di Duyungan, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Senin (29/6/2026). (Daerah/Tri Rahayu)

Pantura.info, SRAGEN — Perum Bulog Surakarta menyerap beras dari petani di wilayah Kabupaten Sragen dengan jumlah tertinggi di Soloraya. Dari target serapan beras Soloraya sebanyak 93.000 ton pada 2026, serapan beras di Sragen mencapai 38.500 ton atau 30 persennya. 

Sementara serapan beras terendah yakni dari Kabupaten Boyolali. Bulog menggenjot serapan gabah dari petani pada musim panen ini untuk mengejar kekurangan target sekitar 20.000 ton.

Penjelasan tersebut diungkapkan Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Surakarta, Nanang Harianto, kepada wartawan saat berkunjung ke Gudang Duyungan, Sidoharjo, Sragen, Senin (29/6/2026). Nanang menyampaikan stok beras di Perum Bulog Cabang Surakarta sampai akhir Juni ini mencapai 92.000 ton.

Dia menyatakan stok pangan di Soloraya masih aman dan mencukupi untuk kebutuhan sampai akhir tahun 2026, bahkan sampai awal 2027. Bulog, lanjutnya, terus menyerap gabah dari petani dan diolah menjadi beras.

Nanang mengungkapkan selama ini serapan gabah yang dikonversi menjadi beras terbanyak di Soloraya masih dari Kabupaten Sragen. Dia menyatakan realisasi serapan gabah mencapai 78,7% atau 79% dari target 93.000 ton dalam bentuk beras.

Capaian 79% tersebut, kata dia, setara dengan 73.000 ton sehingga masih kekurangan sebanyak 20.000 ton yang akan dicukupi pada musim panen II ini dan musim panen III mendatang.

“Kami membeli gabah ke petani sesuai dengan harga pembelian pemerintah [HPP] Rp6.500 per kg untuk gabah kering panen [GKP]. Apabila kondisi harga di tingkat petani melebihi HPP maka kami kembalikan kepada petani untuk menjual ke selain Bulog karena Bulog hanya boleh membeli gabah ke petani sesuai dengan HPP yang ditetapkan pemerintah,” jelas Nanang.

Nanang menyatakan Sragen menjadi penyumbang stok beras Bulog terbesar di Soloraya. Hingga akhir Juni ini, Nanang menyebut ada 38.500 ton beras dari Sragen atau 111% dari target yang ditetapkan.

Serapan beras ke petani di Sragen, jelas dia, sesuai dengan proyeksi Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Sragen. Jadi dengan angka 38.500 ton itu, serapan beras di Sragen sudah mencapai 41,39% dari target 93.000 ton.

Mempertahankan Stok Pangan

Nanang menyampaikan penyerapan gabah atau beras dilakukan Bulog untuk mempertahankan stok pangan untuk program swasembada pangan. Dia mengatakan secara geopolitik, ketahanan pangan nasional harus dipertahankan, terutama untuk jenis bahan pokok beras.

Menurut Nanang, Bulog juga memiliki peran stabilitas harga di tingkat konsumen. “Kami menggencarkan program-program gerakan pangan murah atau penjualan ke pasar-pasar di Sragen untuk menjaga stabilitas harga. Sedangkan penyerapan gabah dilakukan Bulog dengan menggandeng TNI, Polri, penyuluh pertanian, dan pemerintah daerah setempat,” jelas dia.

Nanang menyatakan Bulog menjual beras SPHP dengan harga Rp11.000 per kg dan masyarakat bisa membeli langsung kepada Gudang Bulog terdekat atau melalui jaringan pasar dan Rumah Pangan Bulog. Untuk harga beras SPHP di tingkat pedagang, jelas dia, maksimal Rp12.500 per kg.

Dia mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir dengan stok cadangan beras, khususnya di Sragen. “Di Sragen ada dua Gudang Bulog, yaitu di Duyungan dan Krikilan dengan kapasitas masing-masing 8.000 ton. Dengan stok 16.000 ton di dua gudang, maka stok beras Bulog dapat digunakan untuk penyaluran bantuan pangan hingga 2027 mendatang,” kata dia.

Dia melihat serapan beras di kabupaten lain di Soloraya masih jauh di bawah Sragen, seperti di Sukoharjo baru 83%. Dia menyebut serapan paling rendah di Boyolali sekitar 50% lebih. Nanang masih mengupayakan serapan gabah di Boyolali agar maksimal dan musim tanam ini.

“Kendala di lapangan berkaitan dengan harga gabah. Kalau harga gabah di atas HPP tentu kami tidak bisa membeli. Ya, posisi petani sekarang sejahtera karena harga gabah mencapai Rp7.300 per kg,” kata dia.

Dia mengatakan stok beras berlimpah di Bulog digunakan untuk cadangan pangan pemerintah, stabilitas harga pangan di Tingkat konsumen, dan untuk penugasan bantuan pangan. Dia mengungkapkan pada Juli mendatang ada penyaluran bantuan pangan, hanya beras.

Dia mengatakan bantuan selain beras sudah tidak ada. Bantuan minyak goreng kali terakhir, kata dia, dilakukan pada Juni 2026. Bantuan beras nanti untuk tiga bulan ke depan, Juli 10 kg; Agustus 10 kg; dan September 10 kg. “Kami baru diperintah penyaluran bantuan untuk Juli saja. Sedangkan untuk Agustus-September, kami masih menunggu perintah dari Badan Pangan Nasional,” jelas dia.

Leave a Reply