Pantura.info, BOYOLALI — Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah menyiapkan program pengolahan sampah menjadi energi listrik dan bahan bakar minyak terbarukan (BBMT). Sejumlah daerah di Jawa Tengah, termasuk Boyolali, masuk dalam rencana pengembangan yang ditargetkan mulai berjalan pada 2028.
Kepala DLHK Jateng, Heru Djatmika, mengatakan persoalan sampah menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menargetkan tercapainya kondisi zero sampah pada 2028 sebagaimana dicanangkan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Menurutnya, pengelolaan sampah harus dimulai dari tingkat rumah tangga melalui pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Selain itu, DLHK Jateng juga mendorong pembentukan desa mandiri sampah agar persoalan sampah dapat diselesaikan di tingkat desa.
“Untuk sampah di perkotaan kan tidak bisa disamakan dengan desa. Kalau sampah kota, kami kerja sama dengan Danantara, kami akan membuat PSEL [Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik],” kata Heru saat ditemui di Candisari, Ampel, Boyolali, Rabu (24/6/2026).
Heru menjelaskan Kota Semarang dan Kabupaten Kendal telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Danantara terkait pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Meski pembangunan fisik belum dimulai, proses persiapan sudah berjalan. Rencananya, proyek mulai dilelang pada akhir 2026, pembangunan dilakukan pada 2027, dan operasional ditargetkan pada 2028. Kapasitas pengolahan sampah yang direncanakan mencapai 1.100 ton per hari.
Boyolali Masuk Rencana Pengolahan Sampah Jadi BBM
Selain PSEL, DLHK Jateng juga menyiapkan program pengolahan sampah menjadi bahan bakar minyak terbarukan (BBMT).
Heru mengatakan Kota Pekalongan dan Kota Tegal juga akan didorong mengikuti langkah Semarang dan Kendal melalui kerja sama serupa.
“Untuk di Muria Raya nanti [kami usahakan MoU] di Pati, di Soloraya nanti ada di Sragen [untuk MoU mengubah sampah jadi PSEL]. Kami akan berusaha dengan Danantara atau dari investor lain yang akan bisa membangun PSEL,” tambahnya.
Menurut Heru, sampah memiliki potensi untuk diolah menjadi tiga jenis produk energi, yakni biodiesel, bahan bakar minyak terbarukan, dan energi listrik.
“Kami dari Jateng akan mendorong sampah untuk listrik maupun bahan bakar minyak terbarukan atau BBMT,” kata dia.
Program pengolahan sampah menjadi BBMT direncanakan mencakup wilayah Soloraya yang terdiri atas Kota Solo, Kabupaten Sragen, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Klaten, dan Wonogiri.
“Soloraya ada di Sragen, Kota Solo, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Klaten, dan Wonogiri. Yang rencananya nanti jadi BBMT, ini proses aglomerasi, MoU tujuh kabupaten/kota dengan investor,” kata dia.
Di sisi lain, Heru mengungkapkan saat ini terdapat 47 tempat pembuangan akhir (TPA) di Jawa Tengah. Dari jumlah tersebut, empat TPA menggunakan metode controlled landfill, sedangkan 43 lainnya masih menerapkan sistem open dumping.
“Dari 43 [TPA open dumping], yang kena sanksi dari Kementerian LH ada sekitar 23 TPA. Saya sudah berkomunikasi dengan Menteri LH, Pak Jumhur, akan ada relaksasi, cuma harus diselesaikan. Relaksasi itu artinya ada tambahan waktu TPA open dumping untuk dijadikan controlled landfill,” kata dia.

Leave a Reply