Karhutla Lawu Terus Meluas, Api Mendekati Tempat Wisata Sakura Hills & Lawu Park

Karhutla Lawu Terus Meluas, Api Mendekati Tempat Wisata Sakura Hills & Lawu Park
Kobaran api membakar hutan dan lahan (Karhutla) Gunung Lawu dari Gondosuli, Karanganyar, Senin (19/10/2026). Pemerintah Kabupaten Karanganyar menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran di Gunung Lawu, sementara berdasarkan data terakhir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karhutla Gunung Lawu yang terbakar mencapai 130 hektare sementara itu upaya pemadaman masih terus dilakukan salah satunya dengan water bombing. (Daerah/J Howi Widodo).

Pantura.info, KARANGANYAR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Lawu, Jawa Tengah, memasuki hari ketujuh pada Rabu (21/10/2026).

Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 648 hektare. Angin kencang di kawasan lereng gunung menjadi salah satu kendala dalam upaya pemadaman, termasuk melalui operasi water bombing.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Sugiharjo, mengatakan tim gabungan terus melakukan penyekatan api secara manual untuk mencegah kebakaran meluas ke kawasan hutan alam, objek wisata, serta jalur pipa air milik warga.

“Anginnya luar biasa kencang di Tawangmangu. Kami berupaya semaksimal mungkin melakukan penyekatan agar api tidak menjalar ke kawasan yang harus dilindungi,” kata Sugiharjo saat memberikan keterangan, Rabu malam.

Berdasarkan informasi terakhir yang diterima BPBD, titik api berada sekitar satu kilometer dari kawasan wisata Sakura Hills jika diukur dalam garis lurus. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena api berpotensi menjalar ke kawasan hutan alam dan objek wisata di sekitarnya apabila tidak segera dikendalikan.

Sugiharjo menjelaskan, kawasan permukiman yang menjadi perhatian di antaranya berada di sekitar Gubuk Suwito. Sementara itu, kawasan wisata yang perlu diantisipasi terdampak meliputi Sakura Hills, Lawu Park, dan sekitarnya. BPBD juga berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan untuk mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan kebakaran, terutama warga yang tinggal di sekitar kawasan terdampak.

Dalam laporan perkembangan penanganan karhutla pada hari ketujuh, tim gabungan melakukan pemadaman dan penyekatan api melalui empat posko, yakni posko induk Gondosuli serta posko aju Cemara Kandang, Tambak, dan Cetho.

Dari posko induk Gondosuli, sebanyak 90 personel gabungan yang terdiri atas unsur TNI Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP), Brimob, Polres, dan relawan diberangkatkan untuk melakukan penyekatan api secara manual di kawasan Banbanyu, Babadan, Gulungan, dan Pentongan atau Bukit Mapak.

Sementara itu, dari posko aju Cemara Kandang, sebanyak 20 personel melakukan penyekatan di jalur pendakian antara Pos 1 dan Pos 2. Di posko aju Tambak, sebanyak 136 personel dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan penyekatan di Pos 4. Adapun dari posko aju Cetho, sebanyak 69 personel melakukan penyisiran serta penyekatan di sekitar jalur pipa air milik warga di Pos 3.

Pengamanan jaringan pipa air menjadi salah satu prioritas karena jalur tersebut berperan penting dalam memenuhi kebutuhan air masyarakat di kawasan Tawangmangu dan Jenawi. Sugiharjo mengatakan, sekitar 80 personel gabungan sebelumnya telah dikerahkan untuk mengamankan jalur pipa air di kawasan Tambak dan Temansari, termasuk membuat sekat agar api tidak menjalar ke area tersebut.

“Alhamdulillah, untuk jaringan pipa air sejauh ini masih diupayakan agar tetap aman. Semoga kondisinya terus terjaga,” ujarnya.

Water Bombing Terkendala Cuaca

Upaya pemadaman dari udara melalui operasi water bombing juga terus dilakukan. Berdasarkan laporan penanganan pada Rabu, operasi tersebut dilaksanakan dalam dua sorti menggunakan dua helikopter dengan kapasitas air yang dilaporkan mencapai 14.000 liter. Dalam pelaksanaannya, tujuh kali pengeboman air berhasil dilakukan. Namun, upaya lanjutan sempat terkendala kondisi cuaca yang tidak mendukung sehingga helikopter harus kembali.

Sugiharjo menyebutkan, operasi pemadaman dari udara belum dapat berjalan maksimal karena faktor cuaca. Tim sebelumnya merencanakan pelaksanaan hingga 12 kali pengeboman air. Selain itu, BPBD Karanganyar telah mengajukan permohonan modifikasi cuaca kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Namun, hingga Rabu malam, pihaknya belum menerima balasan atas pengajuan tersebut.

Untuk penanganan pada Kamis (22/10/2026), tim gabungan menyiapkan sejumlah langkah lanjutan. Posko induk Gondosuli akan membuat sekat api di sekitar Babadan dan Gulungan guna melindungi kawasan hutan alam serta objek vital, termasuk Sakura Hills, Lawu Park, dan Embun Lawu.

Posko Cemara Kandang dijadwalkan melanjutkan penyekatan di sekitar Pos 1. Sementara itu, tim dari posko Tambak akan membuat ilaran atau jalur sekat api yang dimulai dari bagian bawah kawasan terdampak.

Adapun tim dari posko Cetho akan melanjutkan pengamanan jaringan pipa air warga. Selain penyekatan manual, petugas juga merencanakan penerapan metode bakar balik di sejumlah titik dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan aspek keselamatan.

Operasi water bombing oleh tim dari Lanud juga direncanakan kembali dilakukan untuk membantu pemadaman dari udara.

Dengan luas kebakaran yang diperkirakan mencapai 648 hektare dan kondisi angin yang masih menjadi tantangan, koordinasi antarpersonel di setiap posko terus dilakukan untuk menekan perluasan api serta melindungi kawasan hutan, objek wisata, dan fasilitas vital masyarakat.

Antisipasi Kebakaran

Founder The Lawu Group, Parmin Sastro Wijono, mengatakan pihaknya telah menerima laporan mengenai titik api yang terlihat di sebelah utara kawasan Lawu Park. Meski demikian, ia mengaku belum melihat langsung kondisi di lapangan sehingga belum dapat memastikan jarak titik api dari kawasan wisata tersebut.

Parmin menilai kawasan Lawu Park dan Sakura Hills telah memiliki upaya antisipasi berupa pembersihan semak-semak di area perbatasan. Menurutnya, vegetasi semak yang mudah terbakar perlu menjadi perhatian karena kebakaran dapat bermula dari tumbuhan bawah sebelum menjalar ke area lain.

“Kalau di Lawu Park, kami sudah tidak ada semak-semak yang memungkinkan terbakar. Di bagian perbatasan juga kami sekat semak-semaknya agar api tidak menjalar,” kata Parmin.

Ia menambahkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, titik api masih cukup jauh dari Lawu Park. Penampakan api pada malam hari melalui foto atau dokumentasi dari kejauhan dapat membuat titik kebakaran terlihat seolah-olah lebih dekat.

Parmin juga menyebut kawasan Sakura Hills masih relatif jauh dari titik api berdasarkan informasi yang diterimanya. Meski demikian, perkembangan kebakaran tetap perlu dipantau untuk mengantisipasi perubahan arah penjalaran api.

Leave a Reply