Pantura.info, KAIRO — Liga Arab menegaskan komitmennya untuk mendukung kemerdekaan dan keutuhan wilayah Palestina serta mengakhiri penderitaan rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Organisasi kawasan tersebut juga mendorong penguatan bantuan kemanusiaan, dukungan politik dan hukum, serta pelaksanaan resolusi yang didasarkan pada legitimasi internasional.
Komitmen tersebut ditegaskan Sekretaris Jenderal Liga Arab, Nabil Fahmy, dalam pidato yang disampaikan Asisten Sekretaris Jenderal sekaligus Kepala Sektor Palestina dan Wilayah Arab yang Diduduki, Duta Besar Faed Mustafa, di Sekretariat Jenderal Liga Arab di Kairo, Mesir, Minggu (18/10/2026), diberitakan Antara.
Pidato itu disampaikan dalam acara peringatan para korban genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza. Menurut Fahmy, peringatan tersebut menjadi momentum untuk memperbarui komitmen Liga Arab dalam membela martabat manusia, menegakkan hak-hak rakyat Palestina, dan mengakhiri tragedi yang dialami penduduk Gaza.
Fahmy menekankan Liga Arab akan terus bekerja sama dengan negara-negara anggota dan mitra untuk menggalang dukungan kemanusiaan, politik, dan hukum bagi rakyat Palestina. Dia juga menegaskan Jalur Gaza harus tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari negara Palestina yang merdeka.
Mengutip data medis Palestina, Fahmy menyebut jumlah korban tewas di Gaza telah melampaui 74.000 orang, termasuk lebih dari 21.000 anak-anak. Sementara itu, jumlah perempuan yang tewas atau terluka sejak Oktober 2023 telah melampaui 35.000 orang.
Dia memperingatkan keterbatasan akses terhadap air, makanan, dan obat-obatan, menyusutnya zona aman, serta pembatasan bantuan kemanusiaan dan bahan rekonstruksi semakin memperparah krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Karena itu, Fahmy menyerukan agar semua pihak memastikan bantuan kemanusiaan dapat masuk tanpa hambatan. Pasokan obat-obatan, makanan, dan bahan bakar juga harus dijamin, sementara jaringan air dan sanitasi perlu dipulihkan agar layanan penting dapat kembali beroperasi.
Menurut dia, pemulihan dan rekonstruksi tidak akan tercapai tanpa penyediaan landasan bagi kehidupan yang bermartabat bagi penduduk Gaza.
Fahmy juga menyoroti keberadaan militer Israel yang terus berlanjut serta perluasan kendali atas sejumlah wilayah di Jalur Gaza. Kondisi tersebut dinilai membatasi ruang gerak warga sipil dan menimbulkan pertanyaan mengenai kepatuhan terhadap ketentuan gencatan senjata.
Dia menekankan perlunya konsolidasi gencatan senjata, penarikan pasukan sesuai komitmen yang telah disepakati, serta pemberian ruang bagi otoritas Palestina untuk menjalankan perannya di Jalur Gaza.
Fahmy menegaskan perdamaian yang adil membutuhkan jalur politik yang jelas untuk mengakhiri pendudukan, menjaga keutuhan wilayah Palestina, dan menjamin hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri.
Jalur politik tersebut, lanjut dia, harus mengarah pada pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat berdasarkan perbatasan 4 Juni 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. Hal itu sejalan dengan resolusi-resolusi internasional yang diakui serta Prakarsa Perdamaian Arab.

Leave a Reply